Mungkin dimata orang-orang aku bukan tipe cewe
yang bisa banyak-banyak bicara. Aku bukan tipe-tipe orang yang bisa dijadikan
pemimpin. Bukan tipe orang yang bisa dengan mudah bergaul dengan orang lain.
Karena, aku akan sangat marah jika aku tak dipercaya oleh orang lain. Aku akan
sangat marah jika....
Saya rasa, minuman yang saya pesan ini cocok untuk Anda siang ini... Melihat cuaca Magelang yang panas. Minuman ini diramu dengan aneka buah segar, dan sedikit gula tambahan. Rasanya, Hmmm..
Gemerlap dengan kemacetannya, keramaiannya, dan semua tetek bengeknya..
Dari Magelang, aku berangkat naik Travel menuju Duren Sawit. Tiba di JakTim pukul 05.30 pagi. Mampir ke rumah kontrakan kakakku. Hm.. yang aku kagum dari dia, Kok bisa-bisanya betah ya, tinggal di kota Jakarta ini. Tempat yang kata orang menjanjikan, tapi, dilihat dari fisiknya, sangat tidak nyaman...
Nyaman bagi orang yang beruang.
Terkadang aku bingung.. Bingung dengan beliau ini. Seharusnya, di usianya yang sekarang, beliau sudah berada di rumah, duduk santai, menanti anak dan cucunya pulang dari bekerja. Tapi, yang tak habis pikir, kemana anak-anakya?
Alin masih
termangu dalam ruangan dingin ber-AC ini. Padahal di luar sana, udara masih
lebih dingin dari dalam rumah.
“Matikan
AC-nya Lin, nanti kamu sakit. Belum hafal juga to sama awakmu?”
“Biar pikiran
Alin tambah dingin Buk, masih pening.” Katanya tak memperhatikan kehadiran
ibunya.
“Apa? Masih
pening? Kamu masih mengingat-ingat lelaki itu? Tega kamu sama ibuk. Semenjak
kamu kenal dia, sikapmu jadi gak jelas. Tingkahmu sama ibu jadi berubah!”
Bentak ibu membuat bulu kudukku berdiri. Merinding. Seperti biasanya. Tapi aku
tetap tak goyah dengan apa yang aku pikirkan.
“Ibu kayak
gitu juga sama Edra. Ibu gak pernah nerima kehadirannya buat Alin. Alin udah
gede buk. Edra juga udah dewasa. Ibu masih gak bisa nerima dia karena dia keturunan
Eropa?”
Kemarin, aku masih sempat melihat dia tersenyum. Entah karena memang dia sudah terlihat lebih baik, atau hanya sekedar menghiburku. Aku tak pernah tahu persis tentang kehidupannya. Tapi, aku sudah mengenal dia selama hampir 5 tahun. Setelah sekian lama juga, aku bekerja di pabrik. Akupun selalu mencoba paham dan mengerti, bahwa tak ada sesuatu yang Tuhan lakukan terhadap makhluknya kecuali untuk kebaikan. Bahkan ketika sakit sekalipun.
"La.." Sapanya dengan menyentuh tanganku, tatkala dia tahu, aku tengah tertidur di sampingnya.
"Udah bangun Zen.." Kataku tersenyum, sambil mataku sedikit-sedikit terpejam dan membuka, menahan kantuk. Maklum, semalaman aku tak tidur.
"Kamu kok gak pulang?" Katanya lirih.
Langit Jakarta mendung tak pasti. Warga sekitar yang sedang menjemur pakaian, tiba-tiba menarik pakaiannya kembali dan berlari ke dalam rumah.
"Dan?!! Kesini!" Teriak salah seoarang anak berambut keriting dari arah loteng tetangga sebelah.
Yang dipanggil masih celingukan.
"Dandi!! Di atas! Loteng!"
Dandi menoleh ke atas. Lalu berlari masuk rumah tetangga, dan menyusul Aga alias krebo, begitu teman-teman menyebutnya.
"Kata Emak, kalo mendung begini, harus hati-hati, naik ke rumah yang lantainya dua. Desa sini sering kena banjir Dan! Tinggi loh. Setinggi rumah." katanya berperaga seperti seorang yang bercerita.
"Masak sih, rumahku gak punya lantai dua Bo?!"
"Kamu ajak aja Emak kamu sama Bapak kamu kesini. Ke atas sini. ini rumah mbahku."
"Emakku pasti rak gelem Bo, nembe kerja."
"Apa Dan? Aku gak ngerti."
Sumber : http://octanegara.wordpress.com/2012/01/26/potret-keikhlasan-ayah-dan-putrinya/
Beberapa hari yang lalu, di bawah kolong meja, aku menemukan secarik kertas. Setelah kubuka, ternyata ada secuil kata-kata yang isinya seperti ini...
---------------------------------------------------------------------- Untuk Bapak,
Pak, aku mungkin gak bisa pulang minggu ini. Masih banyak orderan di tokoku. Jadi aku masih sibuk. Kuharap Bapak ngerti dengan keadaanku. Uang untuk Bapak, mungkin sebulan lagi baru aku bisa ngirim. Keadaan ibu bagaimana Pak? Apakah baik-baik saja? Aku kangen sama ibuk. Adik-adikku juga. Sebenernya pengen cepet pulang, tapi, mau bagaimana lagi? Aku lagi butuh uangku untuk keperluanku di sini. Salam buat Ibuk. Aku kangen. Buat Adik-adikku, belajar yang rajin ya...
Salam, Rani
----------------------------------------------------------------------
Aku lantas memberikan surat itu kepada Ayahku. Dia terkejut melihatnya.
"Rani siapa Pak?" Tanyaku dengan semakin penasaran karena Ayah terlihat gugup.
Kulirik kanan kiriku. Ternyata hanya ada pohon dan pohon. Dengan sedikit gugup kuteruskan langkahku sampai di ujung jalan. Ada semburat cahaya yang terang di belokan sebelah kanan. Serasa ada semangat baru untuk melangkah. Akupun tanpa ragu mendekat ke arah cahaya itu.
"Hoh... Tuhan..." Ucapku spontan.
Ternyata yang ada hanya lampu neon di atas pekuburan. Mungkin orang yang meninggal disitu baru beberapa hari. Sehingga masih ada tenda dan lampu-lampu di atasnya.
Dari arah berlawanan, kulihat ada sepeda motor yang datang.
"Pak..pak.. mbonceng sampe desa boleh Pak?" Kataku dengan nada memohon. Yang kuajak bicara hanya memandangku seolah tak percaya.
Ia datang kepadaku dengan hati-hati. Sesekali kepalanya yang tertutup topi koboi itu melihat kearahku. Kadag kali ia menunduk. Aku bergetar mendengar langkahnya berhenti. Satu meter di sebelahku.
"Mana?"
Aku segera mengeluarkan amplop dari tas kecilku.
"Besok ku tunggu lagi. Dan jangan terlambat." Ucapnya.
Dengan tanpa mendongakkan kepala, wajahnya yang misterius itu masih menyimpan tanya di benakku. Aku hanya takut di guna-guna,
Dengan pura-pura
siap aku datang ke ultahnya Dewika. Baju khas kotak-kotak panjang dengan kaos dalam putih bertuliskan i love surabaya. Rambut yang bergelombang kusisir rapi. Tak lupa jam
tangan kesayanganku kupakai di tangan kiri.
“Kemana Gi? Jadi
ke ultahnya Dewika?” Sapa temenku yang lagi asyik merokok di tepi jendela.
“Iya. Nglegain
yang ngundang.” Kataku tanpa ekspresi kemudian mengambil kunci motorku yang
tergantung di depan almari.
“Sukses bro.”
Kataku tersenyum. Aku hanya mengangkat pundak.
Huwh.. padahal
sudah kalang kabut rasanya. Berangkat. Gak. Berangkat. Gak. Mengingat wajah
dewika, membuatku grogi. Bahkan ketika tidak di hadapannya sekalipun.
Perjalanan pendek yang hanya 3 kilo, serasa hanya 3 meter, karena senyum itu selalu
saja mendadak dan tiba-tiba muncul saat aku melamun.
“Woy mas. Jalan
mas!!!” teriak seseorang ketika kulirik dari kaca helm, traffic lightnya telah
berwarna hijau. Segera kuganti gigi rendah dan tancap gas perlahan-lahan.
Bagaimana
kabarmu? Sekian waktu yang terlewati, telah mengikis sedikit demi sedikit
persahabatan yang telah lama... aku di sini hanya mengingat-ingat yang mungkin
kalian tak ingat. Saat aku mencoba memuntahkan ini, yang ada dalam benakku hanya
satu demi satu kilat peristiwa yang membayang dari sudut kecil memori otakku.
Aku benar-benar sakit. Sambaran-sambaran tonggak kita yang dulu tajam, berbalik
menjadi duri kecil yang teramat menusuk.
Kulepas jaket
yang masih melekat ditubuhku. Mendung justru membuat udara semakin panas.
Termasuk malam ini. Camcorder dan note book kecil yang masih melekat di
tanganku kuletakkan di samping tempatku duduk. Banyak orang masih berlalu
lalang melewati tempatku duduk. Banyak yang hanya ingin bersenang-senang,
meluangkan waktu bersama keluarga, dan ada yang sedang melepas lelah. Terlihat
dari cara mereka berjalan dan berlarian menuju tengah lapang.
Aku mendekati
salah satu dari mereka. Kuperhatikan benar-benar raut mukanya. Sepasang mata
yang sembab dengan bibir keringdan
pandangan kaku ke depan setengah melamun.
“Sendirian?”
Sapaku mencoba mencairkan suasana.
Ia hanya menjawab
dengan gerakan bibir dan setitik air mata yang menetes dari kantung matanya.
Aku rangkul dia dan kubiarkan dia menangis sepuasnya. Dia menatap mataku
lekat...
Hari ke 15. Dan diapun belum membuka mata. Aku
berharap-harap cemas pada pasienku yang satu ini. 2 minggu yang lalu, dan
akupun masih ingat dengan jelas peristiwa itu. Ketika sebuah mobil inova melaju
kencang dari arah timur Jl. Kenanga menuju depan Rumah Sakit ini. Sungguh kaget
bukan kepalang, posisiku berada di seberang jalan tepat di sebelah kanan mobil.
Kulihat betul laki-laki itu terjepit dan mencoba untuk keluar. Semua orang
berlari mencoba menolong. Aku justru berlari ke dalam Rumah Sakit kemudian hanya
melihat peristiwa itu dari arah jendela ruang kerjaku, menunggu para perawat yang
lain mengangkatnya ke dalam tandu. Sejenak pikiranku lengang, telingaku
berdengung tak mendengar apapun,
pandanganku gelap.
“Flora.” Sapa perawat yang tanpa sadar telah berada di
samping dan memanggil namaku beberapa kali. Entah berapa lama.
Aku menoleh ke arahnya dengan tanpa tahu raut wajahnya.
“Kamu pucat sekali. Are you alright?” Diena menepuk
pundakku.
Namaku
Soraya. Oleh teman-temanku, aku sering dipanggil Raya. Aku tinggal disebuah
kota tepatnya Mawar asri. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku, satu orang
kakak laki-laki dan satu orang kakak perempuan. Kak Yos, begitu nama panggilan
kakakku yang pertama. Dia sekarang tengah menempuh pendidikan S1nya di Jogja
semester 5, sementara, Kak Puput, dia menempuh pendidikan S1nya di Semarang,
semester 1, dan tinggal bersama Kakek dan Nenekku disana.
Aku
sendiri, aku baru saja lulus dari SMA. Tinggal aku yang masih bingung mau
menyambung hidup yang seperti apa. Papa bilang, aku mondok saja,