 |
| http://ziphiidae.files.wordpress.com/2012/02/hate.jpg |
Aku seperti orang bodoh saja masih berada di tempat ini.
Dengan segala keterbatasan yang ada.
Terbatas ruang,
Terbatas teman,
Terbatas bicara,
Terbatas...
Posted by
Unknown
,
9:48 AM
 |
| https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggLZOS2HNdOPDJN_hsCsgCkh4WWNvYhaxVG8xzdHC8yYJ4IROr0zS7hmcE_0elsAose_bsCZCqF_vrBCgbKVH_tnQE_JEointMHXux8J6ydB_a2gFV08YtvbRg3gjT1MB3ilm5JcLJ4Kz8/s1600/Maya+Basoeki+Keadilan.jpg |
Mungkin aku salah..
Terlalu menuntut ini
Mungkin aku salah..
Bila saja aku mungkir
Tapi tetap kuakui,
Dan, aku tidak akan mengulang kata-kata gombal itu
Aku biasa
Seperti hati dan pikiran kalian yang ingin bebas
Yang kurasa
Aku berhak menuntut hak
"Seperti kalian"
Apa karena aku 'bukan siapa-siapa?
Apa...
Terkadang aku bingung.. Bingung dengan beliau ini. Seharusnya, di usianya yang sekarang, beliau sudah berada di rumah, duduk santai, menanti anak dan cucunya pulang dari bekerja. Tapi, yang tak habis pikir, kemana anak-anakya?
Alin masih
termangu dalam ruangan dingin ber-AC ini. Padahal di luar sana, udara masih
lebih dingin dari dalam rumah.
“Matikan
AC-nya Lin, nanti kamu sakit. Belum hafal juga to sama awakmu?”
“Biar pikiran
Alin tambah dingin Buk, masih pening.” Katanya tak memperhatikan kehadiran
ibunya.
“Apa? Masih
pening? Kamu masih mengingat-ingat lelaki itu? Tega kamu sama ibuk. Semenjak
kamu kenal dia, sikapmu jadi gak jelas. Tingkahmu sama ibu jadi berubah!”
Bentak ibu membuat bulu kudukku berdiri. Merinding. Seperti biasanya. Tapi aku
tetap tak goyah dengan apa yang aku pikirkan.
“Ibu kayak
gitu juga sama Edra. Ibu gak pernah nerima kehadirannya buat Alin. Alin udah
gede buk. Edra juga udah dewasa. Ibu masih gak bisa nerima dia karena dia keturunan
Eropa?”
“Lin, ibu Cuma
pengen yang terbaik buat kamu.
Hii Bintang... Meski telah lama aku tak menjumpaimu.. Engkau tetap saja bersinar di atas sana..
Tersenyum pada dunia yang tak lagi bersahabat. Kerlip-kerlip seperti mataku saja, seirama dengan arah angin..
Bintang... Pagi ini aku tak bersamanya lagi
Posted by
Unknown
,
10:45 AM
Dalam kerinduanku, aku masih terjaga
Menemani malam yang beranjak malam
Aku ingin segera pagi
Menyambut terangnya yang tak terganti
Menerima lembar baru yang terus terbuka
Lalu mengisinya dengan tinta-tinta arang
Yang entah biasa atau luar biasa...
Namun...
Akhirnya aku bertekat mendekat ke rumah itu. Setelah aku
berdiri sempurna di depan pintu, kukepalkan tangan kanan di tengah-tengah
pintu. Dengan dua kali hentakan, pintu terbuka dengan perlahan. Kutatap sorot
mata tajam didepanku. Dia melihati penampilanku dari kepala hingga kaki.
“Bapak mana?” Tanyaku tiba-tiba.
“Opi?!!” Kata Bapak setelah melihatku berdiri di depan
perempuan itu.
Kemarin, aku masih sempat melihat dia tersenyum. Entah karena memang dia sudah terlihat lebih baik, atau hanya sekedar menghiburku. Aku tak pernah tahu persis tentang kehidupannya. Tapi, aku sudah mengenal dia selama hampir 5 tahun. Setelah sekian lama juga, aku bekerja di pabrik. Akupun selalu mencoba paham dan mengerti, bahwa tak ada sesuatu yang Tuhan lakukan terhadap makhluknya kecuali untuk kebaikan. Bahkan ketika sakit sekalipun.
"La.." Sapanya dengan menyentuh tanganku, tatkala dia tahu, aku tengah tertidur di sampingnya.
"Udah bangun Zen.." Kataku tersenyum, sambil mataku sedikit-sedikit terpejam dan membuka, menahan kantuk. Maklum, semalaman aku tak tidur.
"Kamu kok gak pulang?" Katanya lirih.
 |
| http://www.flickr.com/photos/rasmas85/page9/ |
Biasanya engkau datang
Setiap pagi melihatku di sini
Bukan apapun…
Aku hanya ingin melihat senyum simpulmu
Sekedar itu…
Percayakah engkau jika aku
Aku telah menunggu 17 tahun lamanya…
Namun kau bilang
Baru melihatku 1 minggu yang lalu
Benarkah engkau baru mengenalku?
Setelah dahulu aku kau asingkan?
Tidakkah engkau paham…?
Apa tidak kau mengingat?
Malammu... sungguh menghadirkan gelap di semua
Menanti cahaya rembulan yang tak jua datang
Angkuh..! Angkuh benar sang siraj
Enggan melihatku barang sekejap
Kemana kau wahai rembulan?!
Tak ceria wajahmu di gelap petang
Malammu.. hm.. bukan malamku wahai gelap
Aku hanya ingin, ingin secercah saja
 |
| kamidarisemua.wordpress.com |
Bagaimana mugkin ini engkau?
Duhai sahabat..
Dengarkah hatimu kupanggil ini?
Kemana kau buang aku?
Berhari-hari yang telah lama
Apa itu sia-sia?
Duhai sahabat
Sebesar kemarahanmu itukah salahku?
Beri aku sedikit arti..
Jika itu ada..
Mentari yang tinggal sepenggal hari..
sudah, kuikhlaskan untuk mengantarmu pergi..
Nirma...
Maafmu kunanti sampai nanti..
Bintang Timur..