Dengan pura-pura
siap aku datang ke ultahnya Dewika. Baju khas kotak-kotak panjang dengan kaos dalam putih bertuliskan i love surabaya. Rambut yang bergelombang kusisir rapi. Tak lupa jam
tangan kesayanganku kupakai di tangan kiri.
“Kemana Gi? Jadi
ke ultahnya Dewika?” Sapa temenku yang lagi asyik merokok di tepi jendela.
“Iya. Nglegain
yang ngundang.” Kataku tanpa ekspresi kemudian mengambil kunci motorku yang
tergantung di depan almari.
“Sukses bro.”
Kataku tersenyum. Aku hanya mengangkat pundak.
Huwh.. padahal
sudah kalang kabut rasanya. Berangkat. Gak. Berangkat. Gak. Mengingat wajah
dewika, membuatku grogi. Bahkan ketika tidak di hadapannya sekalipun.
Perjalanan pendek yang hanya 3 kilo, serasa hanya 3 meter, karena senyum itu selalu
saja mendadak dan tiba-tiba muncul saat aku melamun.
“Woy mas. Jalan
mas!!!” teriak seseorang ketika kulirik dari kaca helm, traffic lightnya telah
berwarna hijau. Segera kuganti gigi rendah dan tancap gas perlahan-lahan.