Kemarin, aku masih sempat melihat dia tersenyum. Entah karena memang dia sudah terlihat lebih baik, atau hanya sekedar menghiburku. Aku tak pernah tahu persis tentang kehidupannya. Tapi, aku sudah mengenal dia selama hampir 5 tahun. Setelah sekian lama juga, aku bekerja di pabrik. Akupun selalu mencoba paham dan mengerti, bahwa tak ada sesuatu yang Tuhan lakukan terhadap makhluknya kecuali untuk kebaikan. Bahkan ketika sakit sekalipun.
"La.." Sapanya dengan menyentuh tanganku, tatkala dia tahu, aku tengah tertidur di sampingnya.
"Udah bangun Zen.." Kataku tersenyum, sambil mataku sedikit-sedikit terpejam dan membuka, menahan kantuk. Maklum, semalaman aku tak tidur.
"Kamu kok gak pulang?" Katanya lirih.
"Kadang.. Hidup tak bisa mengerti kita"
Tapi menurutku, kadang kita yang harus paham
Tentang bagaimana kita harus melakukan action yang tepat..
Memang, kita terkadang tak tahu, dengan rencana yang seperti apa
Tapi menurutku, terkadang kita harus membuat prediksi yang baik
Dengan melakukan usaha yang baik,
Jodoh, rejeki, jalan hidup memang tak dinyana
Buat apa merengkuh riuh menggenggam ego
 |
| sumber : http://pephiie.wordpress.com |
Bukan lautan.. Hanya kolam susu.. katenye
Tapi, kata kakekku
Hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu
Kail dan jala cukup menghidupimu.. katenye
Tapi, kata kakekku
Ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara
Tiada badai.. Tiada topan kau temui.. Katenye
Tapi, kenapa ayahku tertiup angin ke malaysia?
Posted by
Unknown
,
10:19 AM
 |
| Sumber : http://metro.kompasiana.com |
Langit Jakarta mendung tak pasti. Warga sekitar yang sedang menjemur pakaian, tiba-tiba menarik pakaiannya kembali dan berlari ke dalam rumah.
"Dan?!! Kesini!" Teriak salah seoarang anak berambut keriting dari arah loteng tetangga sebelah.
Yang dipanggil masih celingukan.
"Dandi!! Di atas! Loteng!"
Dandi menoleh ke atas. Lalu berlari masuk rumah tetangga, dan menyusul Aga alias krebo, begitu teman-teman menyebutnya.
"Kata Emak, kalo mendung begini, harus hati-hati, naik ke rumah yang lantainya dua. Desa sini sering kena banjir Dan! Tinggi loh. Setinggi rumah." katanya berperaga seperti seorang yang bercerita.
"Masak sih, rumahku gak punya lantai dua Bo?!"
"Kamu ajak aja Emak kamu sama Bapak kamu kesini. Ke atas sini. ini rumah mbahku."
"Emakku pasti rak gelem Bo, nembe kerja."
"Apa Dan? Aku gak ngerti."